Malam menjelang fajar. Itu pertama kalinya kau merasakan sebuah lubang di hati. Bangun tidur kau merasa kosong dan gelisah. Tapi kau mencoba untuk tidak seberapa peduli. Sampai berbulan-bulan, lubang kecil itu tetap di sana dan membuatmu bertanya-tanya. Kau mulai heran dan ingin tahu, apakah lubang ini singgah di hati semua orang—atau hanya kau? Tapi kau tidak tahu bagaimana cara menanyakannya. “Permisi, apa kalian punya sebuah lubang yang bernapas dengan interval tidak teratur di dalam hati kalian?” Kau tidak yakin bisa bilang begitu tanpa terlihat bodoh. Malam ini kau selesai beraktivitas dan semua berjalan menyenangkan. Nafsu makanmu tidak seberapa baik tapi kau yakin gizimu cukup. Kau memikirkan ini sepanjang malam dan tidak bisa terpejam. Kekosongan itu tetap ada. Kenapa, kau bertanya-tanya. Apa yang salah denganku, kembali kau bertanya-tanya. Dan kau hanya mampu menatap pada langit-langit kamar yang tidak terlihat karena gelap. Paginya kau punya janji untuk pergi dengan g...
Namanya Argia Adjie Sadewa. Kami janji bertemu hari ini di sebuah kedai kopi di dalam mall yang baru satu-dua tahun buka. Dia duduk di sebuah meja bundar-tinggi dekat bar. Sudah ada dua grande peppermint mocha di atas meja; yang tanpa whipped cream itu punyaku. Bisa dibilang ini mirip kencan buta—sebelumnya kami hanya komunikasi lewat dunia maya; dan permintaanku buat ketemu saat dia mampir ke kota ini pasti bikin kaget. Aku duduk di hadapan dia sambil senyum. Dia sodorkan minuman yang tanpa whipped cream , “Sesuai pesananmu di chat tadi.” Kami berbasa-basi, mengulang apa yang pernah kami omongkan di dunia maya. Tapi kami tidak bosan, meski merasa bodoh juga mengulang percakapan yang sama. Lalu dia bercerita soal keluarga dan kehidupannya di Jakarta; betapa romantis ibu-bapaknya, keponakan yang tukang bikin ulah, kakak ipar yang pernah jual diri waktu SMA, kehidupan ibukota yang segala konsumsinya cuma untuk beli simbol bukan fungsi. Setelah selesai cerita, giliran dia yang bali...