Skip to main content

PSIKADELIA

Tidak tahu pastinya ini jam berapa dini hari. Gang di sebelah pub kecil di pinggir jalan daerah Prawirotaman sepi. Hanya ada aku. Duduk. Sedikit melayang seperti para petapa yang duduk di atas mahkota teratai. Bedanya mereka bersila dan hati mereka mendekat pada Tuhan; sedangkan aku menekuk kedua lutut dan hatiku entah di mana. Pada Tuhan, bisa jadi. Atau pada yang lain, aku tidak terlalu peduli.

Di saat itulah aku pertama kali melihatnya—gadis yang menyeringai. Bayangannya menutupi cahaya lampu jalanan yang oranye menyorot; terang seperti oranye telur bebek dengan efek neon. Aku mendongak dan sedikit menyipitkan kelopak mata dan di saat itulah aku pertama kali melihatnya, menyeringai. Dia memakai jaket tudung abu-abu gelap, tudung menutupi kepala. Wajahnya gelap, kecuali bagian hidung ke bawah. Itu sebabnya aku bisa melihatnya menyeringai.

“Apa?” tanyanya sambil duduk. Sepertinya dia mengambil tempat di sisi kiriku. Entah, aku mulai merasa ada pertukaran sisi secara aneh. Itu kiri atau kanan?

“Apa?” Aku balas sambil keheranan. “Kamu tanya apa, sih?”

“Biar kutebak; turunan jamur gandum hitam?”

Aku tidak paham dia ngomong apa, bicara ke arah mana. Dia datang dari mana juga tidak tahu. Pub itu? Dia lebih mirip pencopet terminal ketimbang gadis yang pergi duduk-duduk di bar. Sebentar kulirik dia. Gelap dan berbayang. Tahu-tahu dia menyodorkan sebelah kepala fon telinga. Dan dipasang di telingaku sedetik setelah dia sadar aku tidak akan merespons.

“Metalcore?” Tidak begitu yakin, tapi sepertinya lagu yang keluar dari kepala fon telinga ini akarnya dari metalcore. Mau ditambah synthesizer atau ditambah napas alternative rock, tetap aku merasa akarnya metalcore.

“Nggak penting itu aliran apa. Kalau kamu dengar, efeknya sama kayak yang kamu rasakan sehabis pakai LSD ini.”

“Tapi ini bukan musik Psikadelik.” Aku bersikeras. Sebab aku yakin aku benar. Dan memang kebenaran itu hanya soal keyakinan saja.

“Tapi tetap bisa dipakai buat jadi teman isap mariyuana atau kunyah perangko.” Dia juga bersikeras. Sebab dia juga yakin dia benar. Dan memang kebenaran itu hanya soal keyakinan saja.

Aku diam lagi akhirnya, sebelum perdebatan makin panjang. Lampu jalanan yang oranye itu semakin mengganggu. Di mataku rasanya sungguhan jadi amis seperti telur bebek. Musik yang masuk melalui telinga dari gadis di sebelahku setiap detik bertambah pekat di lidah. Gelap. Rasa bubuk mesiu dan keputusasaan. Deru satu-dua mobil yang melintas berdenging-denging. Gadis di sebelahku tidak bersuara lagi. Aku tidak menunggunya bicara juga, sih.

I think we’re doomed, I think we’re doomed

And there’s no way back (lalu suara orang mendesah setengah sakaw)

Rasa amis oranye telur bebek berpindah ke telinga, persis habis mendengar ocehan-ocehan penuh belatung masuk pelan menggerogoti tulang martil. Ocehan seperti; gadis tetanggamu sudah tidak perawan lagi, dihamili pemuka masyarakat sebelah rumah. Kamu mana peduli dan itu membikin telinga gatal sekali setiap dengar perbincangan yang itu lagi itu lagi itu lagi. Atau kamu mungkin sebetulnya peduli tapi berpura-pura tidak punya simpati karena toh sudah tahu hasil akhirnya akan seperti apa.

“Hei.” Gadis itu tahu-tahu sudah di hadapanku. Kedua tangannya bertumpu di atas perutku.

Perut? Sebentar, itu sepertinya paha. Badanku berpindah tempat seenaknya. Tapi, setiap anggota badan bukannya memang harus merdeka supaya kemerdekaan yang kupunya menjadi kemerdekaan hakiki?

“Hei.” Gadis itu kembali memangggilku. Gatal di telinga hilang.

“Apa lagi?”

Dia menarik tudung jaket, seakan mau biarkan aku lihat mukanya lebih jelas. Sekarang wajahnya beriak seperti permukaan danau dijatuhi sebutir embun. Aku tahu wajah itu. Dia datang dari ingatan terjauh; ratusan tahun silam. Teman bermain lompat tali, barangkali. Bisa jadi kekasih yang lama tidak dikunjungi. Wajahnya mirip tanah pemakaman basah; misterius; mengerikan; memotong; mencabik-cabik; membikin kangen pulang.

“Kamu mau ikut aku?”

“Ke mana?”

“Suatu tempat tinggi,” Dia mendongak menatap hamparan awan tipis dan bintang-bintang. Aku ikut mendongak. Dia menunjuk, “Ke sana.”

“Jam segini mau ke bandara?”

“Bego!” Dia cengar-cengir, memukul kepalaku dan semuanya jadi beriak, berpendar, nyala-mati, selama beberapa detik. “Kita keluar, membebaskan diri jadi partikel debu dan terbang ke angkasa.”

“Caranya?”

“Kamu tahu caranya.” Dia memegang tanganku, kembali ke sampingku. Duduk. Samping kiri atau kanan? Apa itu masih penting?

Tubuhku pelan-pelan tertinggal di belakang. Aku sesosok tipis, sesosok ruh, aku bisa melihat diriku sendiri duduk bersandar pada dinding gang. Gadis di sebelahku sama. Kulihat dia dan kutemukan di keningnya nama Delia. Mulai sekarang dia kupanggil Delia. Delia yang cantik dan tidak amis seperti oranye telur bebek.

Kami terangkat; tinggi; dan tinggi; dan tinggi. Aku melongok ke bawah. Yogyakarta terlihat kecil. Kraton kelihatan dari sini. Di utara alun-alun dua gelandangan lelap beralaskan rumput. Sri Sultan mungkin masih berbaring di atas tempat tidur, tertidur pulas tanpa tahu di utara alun-alun sedang ada gembel yang tidak punya tempat bernaung. Apakah itu masalah Sri Sultan? Atau masalah kita? Atau masalah si gembel saja? Tidak tahu, aku hanya sesosok tipis, sesosok ruh. Jalanan lengang. Nol Kilometer dan batuan kobel. Satu-dua pengamen pulang ke kandang. Kuda-kuda delman mendengkur kelelahan. Ombak pantai selatan. Aku dan Delia membumbung lamban-lamban.

Semakin mendekati stratosfer, tubuh kami menyerpih; awalnya sebesar gelembung sabun lalu semakin lama memecah semakin kecil; jadi partikel-partikel debu. Panas berkurang, suhu terus-menerus turun. Lalu tiba-tiba saja suhu melonjak, semakin panas, sampai kupikir aku bisa jadi lelehan ingus. Kami berhenti di suatu titik. Dari sini terlihat hemisfer lain yang masih siang. Cahaya matahari dipantulkan partikel debu meteoritik; berkas sinar putih menyala mirip lampu halogen membujur, membentang, menyelimuti bumi. Partikel debuku dan Delia juga ikut berkilau.

Sebuah lagu terngiang-ngiang, soalnya kepala fon telinga masih terpasang di telinga ragaku.

I’ve seen your face before

I’ve known you all my life

And though it’s new

Your image cuts me like a knife

Ketukan drum lagu ini lucu. Vocal seperti terdistorsi. Gitar dipetik seperti berdentum. Suara bas. Bunyi gitar lebih mirip sitar. Ringan, ringan, bergema, lucu.

“Elevator Lantai Ketigabelas.”

“Kenapa?” Aku menoleh ke arah Delia. Delia yang cantik dan tidak amis seperti oranye telur bebek.

“Kita sudah sampai di Eksosfer.” Delia tidak menjelaskan apa maksud kata-kata sebelumnya. Memang terkadang ada hal yang tidak perlu dijelaskan meski bagiku itu rasanya tidak sopan.

Kali ini aku ingin percaya pada Van Gogh. Malam berbintang itu prusia biru; teraduk; berputar-putar. Partikel debu Delia berpendar dongker biru-putih susu. Kulongok bulan tapi dia tidak berwarna ungu seperti kata Umar Kayam—mungkin karena tadi aku tidak minum martini. Partikel debu Delia dan aku membaur, menyatu, memercik, saling mengisi.

“Di langit mana kita bisa bertemu Tuhan?”

“Langit itu letaknya di mana, sih?” Partikel debuku begitu bebas. Tapi kujaga supaya mereka tidak main terlalu jauh. Meski tiap anggota tubuhku merdeka, tetap saja harus ada batasnya; supaya menjadi kemerdekaan yang hakiki.

Lagu yang tadi masih terdengar. Mirip sesosok kakek tua yang mengantuk dan khidmat di kursi goyang reyot. Musiknya mengayun-ayun.

The neon from your eyes is spalshing into mine

It’s so familiar in a way I can’t define

“Kamu tahu sesuatu soal cinta?”

“Begituan itu lebih dari soal endorfin, dopamin, serotonin, oksitosin, dan bumbu mecin. Cinta itu bisa bau-bau mistis juga.” Aku melihat Uranus yang basah; penuh air; dan gairah. Partikelku dan Delia bertumbukan. Semoga itu bukan ovum dan sperma sehingga nanti lahir debu yang lebih kecil-kemerahan. “Kenapa, sih, kamu suka tanya-tanya yang aneh?”

“Menurutmu itu aneh?”

“Ini bukan percakapan yang lumrah di Eksosfer. Sebelumnya ada yang pernah begini di sini?”

“Tidak harus sama dengan yang lain, kan?”

“Tetap saja aneh ada percakapan begini di Eksosfer.”

“Kalau sebelumnya belum pernah ada yang bersatu dengan semesta, apa kamu nggak kepingin jadi yang pertama?”

“Aku selalu bermimpi bersatu dengan semesta. Soalnya aku yakin nggak akan masuk surga tapi terlalu takut kalau harus bayangin masuk neraka.”

“Jadi lebih baik hilang?”

Aku ingin mengangguk. Tapi debu-debu penyusun kepalaku terpencar. “Aku lebih ingin jiwaku lenyap begitu saja, sih. Meski rasanya sulit percaya yang ada bisa jadi tidak ada, kalau memang semua adalah siklus.”

“Seringnya memang kita menginginkan hal yang nggak kita percayai.” Delia setuju.

Though this is our first meeting

We needn’t bother speaking

All we might say is understood

Dari sini kuamat-amati bumi yang berputar, lalu bulan, lalu matahari, lalu planet-planet, lalu bintang, lalu meteor, lalu asteroid, lalu komet. Tuhan pastilah pemikir jenius dan sangat maskulin, begitu pikirku.

“Lihat juga bagaimana Tuhan memahat detail. Itu sisi feminin Tuhan,” sahut Delia.

“Kamu bisa baca pikiranku?”

“Kita partikel debu.”

Lagi-lagi Delia tidak menjawab pertanyaan.

“Lihat juga bagaimana Tuhan menciptakan hening; mengajarkan manusia puisi dan prosa; menurunkan cinta. Itu sisi feminin Tuhan.”

“Cara Tuhan mengatur semesta itu bukti Tuhan maskulin.”

“Di dalam Tuhan ada maskulin dan feminin.”

“Mana bisa.”

“Kamu merasa yang satu meniadakan yang lain?” Delia tertawa. “Kurasa sekarang saatnya pulang kalau begitu.”

Tahu-tahu partikel-partikelku terasa berat, terisap, tersedot, tertarik ke bawah. Belum pernah kurasakan gravitasi begini kuat. Ah, daripada ditarik gravitasi, terjun bebasku lebih mirip kotoran manusia yang didirus paksa masuk ke tangki septik. Otot-ototku kejang karena takut. Aku sudah menyatu menjadi ruh, menabraki kumulus, jadi basah, menggigil. Tangan dan kakiku mengepak-ngepak. Kalau aku menghantam aspal aku pasti berkeping-keping. Tidak usah aspal, air laut juga cukup mampu membikin aku merasa remuk. Lalu disapu arus pecah pantai selatan yang ganas. Habis sudah.

“Delia?” Kupanggil dia berkali-kali tapi tidak ada jawaban.

Bangsat. Dia hilang pada saat genting.

Masuk lapisan stratosfer paling bawah, sesaat lagi troposfer, sesaat lagi tanah. Tidak sampai sepuluh detik aku merasakan tulang punggungku seperti retak. Kepalaku berdebum dan spektrum warna menari-nari di depan mata. Delia, di mana dia?

*

Aku tersentak. Masih ada sensasi aneh yang sulit dijelaskan. Barusan itu aku mimpi atau gimana? Aku kurang paham. Sudah berapa lama aku di sini? Satu malam? Dua malam? Sekelilingku masih gelap. Masih dini hari? Masih di gang yang sama?

And now I‘m home

And now I’m home

And now I’m home to stay

Satu kepala fon telinga masih menempel. Lagu yang mirip sesosok kakek tua mengantuk dan khidmat di kursi goyang reyot, yang musiknya mengayun-ayun aneh-lucu itu akhirnya habis. Kulepas fon telinga, kurunut kabel fon telinga. Colokannya tidak terpasang di mana-mana. Tidak di ponsel pintar, tidak di pemutar MP3, tidak di iPhone Shuffle.

“Akhirnya kamu kembali. Bagaimana perjalananmu?”

Aku mendongak. Seorang gadis dengan jaket tudung abu-abu gelap berdiri, kedua tangannya di dalam saku. Menyeringai.

 

*) Lirik lagu diambil dari lagu “Doomed” oleh Bring Me The Horizon dan “Splash 1” oleh The 13th Floor Elevators.

**) Pernah dimuat dalam antologi Celia dan Gelas-Gelas dalam Kepalanya

Comments