Skip to main content

KELUARGA

Namanya Argia Adjie Sadewa. Kami janji bertemu hari ini di sebuah kedai kopi di dalam mall yang baru satu-dua tahun buka. Dia duduk di sebuah meja bundar-tinggi dekat bar. Sudah ada dua grande peppermint mocha di atas meja; yang tanpa whipped cream itu punyaku. Bisa dibilang ini mirip kencan buta—sebelumnya kami hanya komunikasi lewat dunia maya; dan permintaanku buat ketemu saat dia mampir ke kota ini pasti bikin kaget.

Aku duduk di hadapan dia sambil senyum. Dia sodorkan minuman yang tanpa whipped cream, “Sesuai pesananmu di chat tadi.”

Kami berbasa-basi, mengulang apa yang pernah kami omongkan di dunia maya. Tapi kami tidak bosan, meski merasa bodoh juga mengulang percakapan yang sama. Lalu dia bercerita soal keluarga dan kehidupannya di Jakarta; betapa romantis ibu-bapaknya, keponakan yang tukang bikin ulah, kakak ipar yang pernah jual diri waktu SMA, kehidupan ibukota yang segala konsumsinya cuma untuk beli simbol bukan fungsi. Setelah selesai cerita, giliran dia yang balik tanya soal keluargaku.

“Kamu yakin mau dengar ceritaku?”

“Memang kenapa?”

“Nggak apa. Kayaknya bakal panjang.”

“Itu bagus, daripada kehabisan bahan obrolan,” tandasnya, dipoles senyum tipis.

Setelah agak lama menimbang-nimbang dari mana aku harus mulai, akhirnya kubilang, “Keluargaku semua  tinggal di Surabaya. Yang di Yogya hanya aku dan ibu. Tiap libur panjang mereka main ke sini. Menyenangkan kalau adik-adik sepupu mulai mengajak main sampai rusuh.

“Aku selalu suka kalau keluarga dari Surabaya pulang. Mereka punya banyak hal ajaib yang dibawa. Dari makanan semacam ransum dan roti kabin sisa oom-ku layar—meski aku nggak paham kenapa yang beginian dibawa turun dari kapal; mana di lidah rasanya mengerikan pula. Pernah juga bawa hewan selundupan.”

“Hewan selundupan!” Argia memekik tertahan, memotong ucapanku. Badannya condong ke meja, tertarik.

“Ya, kami pernah pelihara tapir tapi seminggu kemudian mati,” beberku lalu menyeruput peppermint mocha.

“Katanya keluargamu tinggal di Surabaya?”

“Memang.”

“Tapir itu dari Sumatera. Patroli daerah sana bukannya tugas armada Koarmabar?” Argia memasang raut muka skeptis.

“Aku nggak bilang oom-ku patroli sampai Sumatera.”

“Benar juga.” Dia berpikir. “Berarti penyelundupnya masuk ke wilayah timur?”

“Bisa jadi. Barangkali tapir itu mau dijual ke Filipina untuk dibeli kolektor di sana. Kita nggak bisa mengatakan hal yang pasti.”

“Kita memang nggak banyak tahu.” Argia mengangguk.

“Kulanjutkan. Kakekku adalah laki-laki tua perfeksionis yang punya tempramen agak buruk—berbanding terbalik dengan Nenek yang sering mengalah, baik, sabar, meski cerewet bukan main. Kakek punya gramofon kesayangan, yang sebetulnya sudah rusak, yang nggak boleh disentuh oleh siapa pun. Kalau ditanya kenapa, Kakek bakal selalu jawab, ‘Itu kenang-kenangan dari pasar barang bekas di Southampton!’ Kakek memang beli itu pas ambil kapal Wilhelmus Zakaria dari Royal Navy dulu, sih. Tapi menurutku nggak perlu sampai terlalu sentimental. Itu kan cuma gramofon usang yang sudah nggak berfungsi.”

“Sebentar, kalian keluarga militer?”

“Nggak bisa dibilang begitu. Yang militer cuma kakek dan salah satu oom-ku—aku punya dua oom. Ayah dan oom-ku yang satu lagi orang sipil. Oom-ku yang orang sipil tinggal di Gresik. Oom-ku yang Bintara masih di perumahan di Koarmatim; Kakek dan Nenek tinggal bersama oom-ku yang itu.”

“Oke, kayaknya aku ngerti.” Tapi dahinya masih mengerut buruk. Dia menyeruput peppermint mocha sambil pasang wajah tidak yakin.

Aku ketawa. “Kamu nggak perlu benar-benar ngerti.”

“Pasti tadi kamu juga nggak benar-benar paham silsilah keluargaku,” tebaknya diberi bumbu seringai.

“Memang buat apa saling hapal silsilah keluarga? Kita bukan pasangan yang bersiap-siap mengawini satu sama lain, kan?”

“A ha ha ha.”

“A ha ha ha.”

Kami berdua ketawa seperti orang dungu. Aku bilang, “Kalau kakak iparmu sewaktu SMA bisa bikin puluhan laki-laki mengemis di ujung kakinya karena dia hebat di ranjang, itu agak mirip sama tanteku. Sewaktu sekolah juga dia jago menaklukan laki-laki; sebab dia ahlinya balap liar pakai motor laki, banyak anak cowok yang ‘hormat’,” di sini tanganku membentuk tanda kutip, “sama tanteku. Dia nyaris nggak punya rasa takut—kalau kamu besar di lingkungan militer, memalukan sekali kalau sampai jadi pecundang meski kamu perempuan.”

“Apa itu nggak jadi beban mental buat kamu?”

“Apa aku kelihatan kayak ada beban mental?”

“Mana bisa aku menyimpulkan dari satu pertemuan!” Argia memasang wajah serius. Jawaban ini bikin aku tersenyum simpul. Dia menarik. “Teruskan ceritamu.”

“Boleh aku bahas kekasihku?”

Dia tampak tertegun lima detik sebelum menjawab, “Kenapa nggak boleh? Silakan saja.”

“Kekasihku baru saja mati, dua minggu lalu. Ditabrak kucing. Jangan ketawa, aku serius. Dia naik mobil malam itu—tempatnya agak jauh dari sini. Jalanan cukup ramai dan katanya kekasihku nggak ngebut-ngebut amat. Kucing itu tiba-tiba saja lompat ke atas kap, kayak jatuh begitu saja dari langit. Kekasihku kaget dan banting setir ke kiri. Ada saluran comberan yang lagi direnovasi; ke situlah mobilnya terjungkal. Tapi dia mati bukan karena itu. Kekasihku dirawat di rumah sakit—dan dokter bilang, dia belum boleh makan apa-apa selain bubur. Kekasihku itu pembangkang. Sore hari saat kujenguk dia berkeras minta kubelikan bebek goreng; dia tersedak saat makan, kehabisan napas, lalu mati.”

Argia mencoba memasang wajah simpati, meski yang muncul kemudian sebuah ketawa yang ditahan. Dia mati-matian mencoba sopan. “Maaf.”

“Nggak masalah. Hal-hal konyol kadang memang datang di saat nggak tepat.”

“Kalau gitu, kekasihmu nggak mati gara-gara kucing.”

Aku mengangguk setuju. “Aku nggak bilang dia mati gara-gara kucing. Itu tadi cuma permulaan cerita.”

“Ceritakan awal perjumpaan kalian.”

“Kamu serius mau tahu?” Aku meringis.

“Kenapa?”

“Ini pasti kedengaran bodoh.” Mendengar jawabanku, Argia mengulum senyum saja. Jadi aku akhirnya cerita, “Pagi itu, hari Minggu, aku naik sepeda keliling sebuah lapangan di sebuah universitas. Ada banyak juga yang lari pagi dan bersepeda di sana. Termasuk kekasihku juga lari pagi—waktu itu tentu dia belum jadi kekasihku. Aku teledor dan menabraknya dari belakang, kami berdua jatuh. Aku minta maaf dan dia bilang nggak apa. Untuk mencairkan suasana, aku bilang, ‘Kamu terlalu bersinar, sih. Aku sampai silau, nggak bisa lihat apa-apa, terus nabrak kamu, deh.’ Dia ketawa lepas, pujianku bikin dia mau muntah tapi sekaligus senang. Besoknya kami kencan, dua hari kemudian kami jadian.”

“Wow.”

“Apa?”

“Kamu betul-betul tipe orang yang nggak pikir panjang.” Argia mengucapkan ini dengan nada yang aku tidak yakin; apa dia takjub atau merasa jijik karena sifatku yang impulsif. “Lalu gimana perasaanmu pas dia,” Argia mencoba berhati-hati, “meninggal?”

“Yah, sedih.”

“Itu saja?” Di sini Argia tampak terkejut bukan main.

“Aku harus gimana?”

“Kupikir kamu bakal nangis.”

“Aku nangis; karena bebek gorengnya belum habis. Padahal biasanya dia suka sekali bebek goreng. Rasanya seperti bukan dia.” Alasan untuk bersedih tiap orang memang sering tidak masuk akal. Soalnya alasan untuk sedih itu sangat personal, kan? Bahkan kadang untuk bersedih kita tidak butuh alasan.

Pengunjung kedai kopi silih berganti, memesan minum, take away, keluar dari kedai. Sebagian memesan snack dan mencari-cari tempat duduk kosong. Aku menghadap dinding kaca, tembus pandang ke arah depan mall. Langit jam tiga sore memang selalu bagus di mana-mana. Warna langit kuning hangat—bayangkan hangatnya sebuah kolam renang saat kamu pipis di dalamnya. Barista-barista berkutat dengan mesin kopi. Argia memainkan ponsel sebentar, membalas satu-dua chat atau komentar-komentar di media sosial.

“Kita belum selfie.” Sekarang rasanya belum genap kalau belum selfie-wefie, apalagi dalam rangka kopi darat sama teman dunia maya.

Argia mengangguk. “Pakai ponselmu apa ponselku?”

“Punyamu. Nanti kamu yang upload.”

Kami selfie, pamer minuman yang sudah setengah gelas habis. Argia mengunggah foto, pakai banyak tagar supaya beken, pakai mention namaku juga. Ponselnya lalu kembali ke dalam saku.

“Pesawatmu berangkat jam berapa?”

Argia melirik jam tangan. “Tiga jam lagi. Kita masih punya waktu setengah jam lebih buat mengobrol sebelum aku siap-siap pulang.”

“Sudah nggak ada yang mau kuceritakan.”

Lagi-lagi dia memasang kerutan heran yang jelek. “Sudah semua? Bagaimana dengan ibu dan ayahmu?”

“Aku perlu ganti berapa peppermint mocha-nya?” Di sini aku meringis lebar-lebar.

Argia kelihatan semakin bingung dan terlihat tidak suka dengan manuverku. Dia tahu aku mengalihkan pembicaraan. Tapi aku sama sekali tidak berniat menjawab. Biar Ibu dan Ayah kusimpan sebagai kisah keluargaku sendiri.


Pernah dimuat di Majalah Kawanku edisi 12-16 April 2016 

Comments