Berbanding terbalik dengan arti kata pesimis/pesimisme yang memiliki konotasi negatif bagi orang kebanyakan, (philosophical) pesimisme justru membawa 'kedamaian' bagi saya—dan mungkin juga bagi banyak orang lain.
Seperti kebanyakan anak muda pada awal usia 20 tahun, saya dulu juga merasakan bahwa segalanya terasa membingungkan dan menekan. Orang-orang terdekat bertanya mau ke mana setelah ini, rencana apa yang dimiliki dalam jangka waktu tertentu, tujuan apa yang ingin dicapai, dst., dst. Pertanyaan-pertanyaan itu kadang bukan sesuatu yang secara sengaja diniatkan untuk membuat kita tersudut, akan tetapi saat mencoba mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, walaupun jawaban yang diinginkan biasanya hanya jawaban yang bersifat praktis bukan filosofis, kita tetap merasakan kebingungan dan tekanan yang cukup besar. Rasanya seperti tiba-tiba dilempar ke dalam sebuah ruang gelap dan semua orang berharap kita bisa menemukan pintu keluar sendiri.
Dalam kondisi demikian, saya (dan mungkin orang kebanyakan) biasanya secara refleks akan merangkak meraba-raba mencari sesuatu yang dapat membantu penglihatan; lilin, senter, lampu minyak, apa pun. Kita mencari cahaya yang bisa membantu melihat jalan keluar. Cahaya itu bisa berupa apa saja—agama, spiritualitas, atau apa. Yang saya temukan saat itu adalah tidak ada. Bagaimana jika memang di ruang gelap itu tidak ada apa-apa? Apa saya harus memaksakan diri mencari lilin? Atau bagaimana jika setelah saya menemukan cahaya ternyata tidak ada pintu keluar?
Yang terjadi pada saya adalah saya akhirnya tidak memaksakan diri mencari. Lagipula, setelah menemukan pintu keluar lalu apa? Menemukan orang-orang yang menyoraki dan memberikan selamat? Setelah itu apa lagi?
Ketika saya berpikir bahwa mungkin memang tidak ada penerangan, saya kembali berdiri pelan-pelan. Selanjutnya saya hanya berjalan di ruang kosong dan meraba dengan lebih tenang, tanpa ekspektasi apakah saya akan menemukan lilin atau kenop pintu atau malah ular berbisa. Dan itulah yang membantu saya.
Saya mungkin sampai saat ini masih berada di ruang gelap itu tanpa tahu apakah ada pintu keluar di suatu tempat di sana. Tapi saya sudah tidak lagi memikirkan tentang pintu atau lilin atau senter.
Januari 2020 saya sempat ikut sebuah diskusi buku karya Judith Halberstam (atau Jack Halberstam) yang berjudul The Queer Art of Failure, di sebuah kafe buku di kawasan Hegarmanah. Walaupun buku itu secara spesifik menyoroti bagaimana sukses dari kacamata heteronormatif dan bagaimana orang-orang queer harus meresponsnya, saya tetap merasa bisa relevan terhadap tema utama buku tersebut: apa itu sukses dan mengapa kita harus sukses?
Tentu ini bukan berarti saya tidak boleh mencoba untuk sukses. Ini lebih menekankan pada pandangan yang serupa dengan gambaran ruang kosong sebelumnya: mengapa saya harus mencari pintu keluar?
Dunia manusia sangat kompleks. Ada berbagai lapisan di dalamnya; kelas sosial, kelas ekonomi, pergerakan zaman, suku, bangsa, ras, kepentingan, dan lainnya. Apa yang dianggap sukses bagi kelas ekonomi bawah belum tentu dianggap sukses bagi kelas ekonomi atas. Setiap manusia pasti memiliki lapisan identitas yang banyak. Artinya banyak lapisan kesuksesan pula yang harus ditembus. Saya misalnya; anak perempuan tunggal, cucu pertama dari garis ibu, suku Jawa, cis-hetero, berkebangsaan Indonesia. Umumnya, standar sukses untuk saya adalah menikah di usia 25 tahun, memiliki penghasilan sekian yang bisa diberikan kepada orang tua, selesai S2 setidaknya di usia 27 tahun, dan menjadi panutan bagi saudara yang lebih muda. Rasanya pasti overwhelming. Tetapi jika dipecahkan dalam skala yang lebih kecil, yaitu diri sendiri, tentu bukan itu standar sukses saya.
Kembali lagi pada ilustrasi ruang gelap tadi. Untuk menuju pintu keluar, orang-orang mungkin menyoraki dari luar ruang agar saya menemukan senter, baterai cadangan, dan mengganti sandal yang saya pakai dengan sepatu. Akan tetapi di ruangan gelap itu saya tidak menemukan apa-apa. Pesimisme yang ini bukan mengajarkan bahwa saya tidak mungkin menemukan senter, melainkan membantu saya melihat bahwa saya memang tidak punya senter saat ini dan memangnya kenapa? Optimisme palsu mengajarkan saya harus mendengar suara dukungan dari luar untuk mencari senter, pesimisme mengajarkan saya untuk melihat bahwa ruangan tempat saya terlempar ini memang tanpa senter.
Pesimisme mengajarkan saya untuk menerima bahwa dunia ini tidak dirancang untuk siapa-siapa secara khusus. Berbeda dengan optimisme palsu khas tokoh utama cerita yang naif bahwa ada yang perlu kita taklukan di dunia, ada pencapaian yang wajib kita raih selama hidup, dan kita harus meninggalkan jejak baik bagi kehidupan. Optimisme palsu yang dibuat oleh motivator ketika tidak ada senter di ruang gelap maka kitalah yang menjadi penerang bukan pandangan yang cocok bagi saya. Saya manusia, saya tidak mengandung zat pijar.
Pesimisme mengajarkan pada saya bahwa hidup tidak memiliki tujuan konkrit. Tujuan hidup bukanlah menikah, tujuan hidup bukanlah mendapatkan gelar akademik, tujuan hidup bukanlah menyelamatkan umat manusia. Jika kita bisa mendapatkan semuanya, itu bagus. Tapi tidak ada kewajiban yang melekat untuk mencapai semua itu.
Saya percaya bahwa ketika kita berhasil melakukan sesuatu dan berguna, kemudian kegunaan itu luntur pada suatu waktu—karena perkembangan zaman, karena apa pun—saya tidak menanggung apa-apa. Karena saya percaya bahwa segala sesuatunya akan berjalan menuju ke kepunahan. Dan karena inilah saya justru sering merasa lebih legowo atas semua hal jahat yang menimpa saya. Tentu saja ini bukan berarti ketika berada dalam posisi sebagai korban kita tidak boleh melawan. Ini hal yang sama sekali berbeda.
Dari pesimisme, saya mendapatkan penerimaan total, dan menjadi lebih 'permisif' terhadap segala 'kegagalan'. Saya tidak lagi memaksakan diri mencari senter di sebuah ruang gelap yang mungkin di dalamnya memang tidak pernah ada senter.
Tahun depan usia saya 27 tahun, dan saya merasa tidak ada lagi pertanyaan yang bisa menekan saya. Di suatu tempat di ruang gelap, entah ada pintu keluar atau tidak, saya berdiri dengan tenang.
*) Tulisan ini pernah dikirimkan untuk Lomba Esai Dopamination 2021; Finding Authenticity through Self-Compassion dan meraih juara 1
Seperti kebanyakan anak muda pada awal usia 20 tahun, saya dulu juga merasakan bahwa segalanya terasa membingungkan dan menekan. Orang-orang terdekat bertanya mau ke mana setelah ini, rencana apa yang dimiliki dalam jangka waktu tertentu, tujuan apa yang ingin dicapai, dst., dst. Pertanyaan-pertanyaan itu kadang bukan sesuatu yang secara sengaja diniatkan untuk membuat kita tersudut, akan tetapi saat mencoba mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, walaupun jawaban yang diinginkan biasanya hanya jawaban yang bersifat praktis bukan filosofis, kita tetap merasakan kebingungan dan tekanan yang cukup besar. Rasanya seperti tiba-tiba dilempar ke dalam sebuah ruang gelap dan semua orang berharap kita bisa menemukan pintu keluar sendiri.
Dalam kondisi demikian, saya (dan mungkin orang kebanyakan) biasanya secara refleks akan merangkak meraba-raba mencari sesuatu yang dapat membantu penglihatan; lilin, senter, lampu minyak, apa pun. Kita mencari cahaya yang bisa membantu melihat jalan keluar. Cahaya itu bisa berupa apa saja—agama, spiritualitas, atau apa. Yang saya temukan saat itu adalah tidak ada. Bagaimana jika memang di ruang gelap itu tidak ada apa-apa? Apa saya harus memaksakan diri mencari lilin? Atau bagaimana jika setelah saya menemukan cahaya ternyata tidak ada pintu keluar?
Yang terjadi pada saya adalah saya akhirnya tidak memaksakan diri mencari. Lagipula, setelah menemukan pintu keluar lalu apa? Menemukan orang-orang yang menyoraki dan memberikan selamat? Setelah itu apa lagi?
Ketika saya berpikir bahwa mungkin memang tidak ada penerangan, saya kembali berdiri pelan-pelan. Selanjutnya saya hanya berjalan di ruang kosong dan meraba dengan lebih tenang, tanpa ekspektasi apakah saya akan menemukan lilin atau kenop pintu atau malah ular berbisa. Dan itulah yang membantu saya.
Saya mungkin sampai saat ini masih berada di ruang gelap itu tanpa tahu apakah ada pintu keluar di suatu tempat di sana. Tapi saya sudah tidak lagi memikirkan tentang pintu atau lilin atau senter.
*
Januari 2020 saya sempat ikut sebuah diskusi buku karya Judith Halberstam (atau Jack Halberstam) yang berjudul The Queer Art of Failure, di sebuah kafe buku di kawasan Hegarmanah. Walaupun buku itu secara spesifik menyoroti bagaimana sukses dari kacamata heteronormatif dan bagaimana orang-orang queer harus meresponsnya, saya tetap merasa bisa relevan terhadap tema utama buku tersebut: apa itu sukses dan mengapa kita harus sukses?
Tentu ini bukan berarti saya tidak boleh mencoba untuk sukses. Ini lebih menekankan pada pandangan yang serupa dengan gambaran ruang kosong sebelumnya: mengapa saya harus mencari pintu keluar?
Dunia manusia sangat kompleks. Ada berbagai lapisan di dalamnya; kelas sosial, kelas ekonomi, pergerakan zaman, suku, bangsa, ras, kepentingan, dan lainnya. Apa yang dianggap sukses bagi kelas ekonomi bawah belum tentu dianggap sukses bagi kelas ekonomi atas. Setiap manusia pasti memiliki lapisan identitas yang banyak. Artinya banyak lapisan kesuksesan pula yang harus ditembus. Saya misalnya; anak perempuan tunggal, cucu pertama dari garis ibu, suku Jawa, cis-hetero, berkebangsaan Indonesia. Umumnya, standar sukses untuk saya adalah menikah di usia 25 tahun, memiliki penghasilan sekian yang bisa diberikan kepada orang tua, selesai S2 setidaknya di usia 27 tahun, dan menjadi panutan bagi saudara yang lebih muda. Rasanya pasti overwhelming. Tetapi jika dipecahkan dalam skala yang lebih kecil, yaitu diri sendiri, tentu bukan itu standar sukses saya.
Kembali lagi pada ilustrasi ruang gelap tadi. Untuk menuju pintu keluar, orang-orang mungkin menyoraki dari luar ruang agar saya menemukan senter, baterai cadangan, dan mengganti sandal yang saya pakai dengan sepatu. Akan tetapi di ruangan gelap itu saya tidak menemukan apa-apa. Pesimisme yang ini bukan mengajarkan bahwa saya tidak mungkin menemukan senter, melainkan membantu saya melihat bahwa saya memang tidak punya senter saat ini dan memangnya kenapa? Optimisme palsu mengajarkan saya harus mendengar suara dukungan dari luar untuk mencari senter, pesimisme mengajarkan saya untuk melihat bahwa ruangan tempat saya terlempar ini memang tanpa senter.
Pesimisme mengajarkan saya untuk menerima bahwa dunia ini tidak dirancang untuk siapa-siapa secara khusus. Berbeda dengan optimisme palsu khas tokoh utama cerita yang naif bahwa ada yang perlu kita taklukan di dunia, ada pencapaian yang wajib kita raih selama hidup, dan kita harus meninggalkan jejak baik bagi kehidupan. Optimisme palsu yang dibuat oleh motivator ketika tidak ada senter di ruang gelap maka kitalah yang menjadi penerang bukan pandangan yang cocok bagi saya. Saya manusia, saya tidak mengandung zat pijar.
*
Pesimisme mengajarkan pada saya bahwa hidup tidak memiliki tujuan konkrit. Tujuan hidup bukanlah menikah, tujuan hidup bukanlah mendapatkan gelar akademik, tujuan hidup bukanlah menyelamatkan umat manusia. Jika kita bisa mendapatkan semuanya, itu bagus. Tapi tidak ada kewajiban yang melekat untuk mencapai semua itu.
Saya percaya bahwa ketika kita berhasil melakukan sesuatu dan berguna, kemudian kegunaan itu luntur pada suatu waktu—karena perkembangan zaman, karena apa pun—saya tidak menanggung apa-apa. Karena saya percaya bahwa segala sesuatunya akan berjalan menuju ke kepunahan. Dan karena inilah saya justru sering merasa lebih legowo atas semua hal jahat yang menimpa saya. Tentu saja ini bukan berarti ketika berada dalam posisi sebagai korban kita tidak boleh melawan. Ini hal yang sama sekali berbeda.
*
Dari pesimisme, saya mendapatkan penerimaan total, dan menjadi lebih 'permisif' terhadap segala 'kegagalan'. Saya tidak lagi memaksakan diri mencari senter di sebuah ruang gelap yang mungkin di dalamnya memang tidak pernah ada senter.
Tahun depan usia saya 27 tahun, dan saya merasa tidak ada lagi pertanyaan yang bisa menekan saya. Di suatu tempat di ruang gelap, entah ada pintu keluar atau tidak, saya berdiri dengan tenang.
*) Tulisan ini pernah dikirimkan untuk Lomba Esai Dopamination 2021; Finding Authenticity through Self-Compassion dan meraih juara 1
Comments
Post a Comment