Siang pada pertengahan bulan Juli selalu mengingatkan Nata pada kompleks dekat pemukiman kecil tidak jauh dari pelabuhan di sebuah kota di sisi timur Pulau Jawa. Udara panas seakan menarik semua air di dalam tubuh dan menyisakan organ-organ yang terasa menyusut. Nata kecil biasanya hanya duduk malas di bawah pohon depan rumah, memperhatikan anak-anak seusianya yang berlari bersama kelompok-kelompok mereka. Nata kadang bergabung, lebih sering memilih tidak.
Nata ingat betul sore datang bersama Nenek yang pulang dari kantor koperasi naik sepeda kumbang. Ingatan itu begitu dekat dan sepi. Rasanya seperti sore yang sama yang terus berulang tetapi juga sore yang terjadi hanya sekali kemudian hilang. Ingatan jauh yang terus melekat memang selalu membawa sensasi aneh.
Dini hari ini Nata duduk di atas meja konter bar yang baru selesai dirapikan. Kursi-kursi tanpa lengan ditumpuk naik ke atas empat meja makan kecil bundar yang tersebar di tengah ruangan, dengan masing-masing tiga kursi di atas satu meja. Seorang laki-laki seusia Nata sedang membersihkan lantai bar dengan penyedot debu. Bar dalam kondisi remang. Dengung halus mesin penyedot debu mendominasi, sesekali diselingi suara kendaraan lewat di depan bar atau langkah orang-orang dan suara obrolan ringan. Lampu utama di tengah ruangan yang tidak pernah terang sudah dimatikan, hanya lampu oranye jalanan menembus jendela yang tidak tertutup stiker yang menjadi sumber cahaya. Di langit hanya ada bulan sabit awal yang terkadang tertutup awan.
Itu memang dini hari tapi segala yang sepi dan kejadian aneh sepanjang hari ini mengingatkannya pada siang di kota kelahirannya di dekat pelabuhan. Nata menatap punggung laki-laki itu. Mesin penyedot debu dimatikan. Laki-laki itu berbalik badan, mengemas barangnya ke dalam tas pinggang kecil, mengambil kunci sepeda motor dan kunci pintu utama bar. Dia keluar, mengunci pintu kaca bar, menarik rolling door semua sisi depan bar, dan berjalan ke parkiran kecil di teras bar. Laki-laki itu naik ke atas motor kemudian meninggalkan bar tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Laki-laki itu adalah Angger. Nata sudah mengenalnya hampir selama dua puluh tahun. Mereka bertemu di SMA dan ternyata rumah mereka tidak terlalu jauh.
Angger adalah anak pindahan di sekolah mereka, dan pemukiman rumah Angger hanya berjarak satu kilometer dari kompleks perumahan Nata. Pamannya waktu itu mengasuh Angger karena kedua orang tua Angger bercerai dan Angger tidak mau memilih salah satu dari mereka walau hak asuh jatuh pada Mama.
Angger bukan anak pemurung, tapi dia meminimalisir berinteraksi dengan orang-orang. Sejak kepindahan Angger, nyaris setiap hari Nata mengajak Angger untuk duduk di bangku semen depan rumahnya di bawah pohon mangga, duduk diam menunggu sore datang bersama Nenek yang naik sepeda kumbang. Nata dan Angger menyukai kegiatan rutin aneh itu, sampai suatu siang Angger datang ke rumah Nata dan hanya ada ayah Nata di dalam rumah. Angger tidak berani bertanya pada ayah Nata, dia hanya duduk di bangku semen, menunggu. Sore datang tapi tanpa Nenek.
Hampir tengah malam tadi Nata mati dan dia belum sempat bilang pada Angger bahwa dia sudah mempertimbangkan semua perkataan Angger. Satu minggu yang lalu Angger bilang bahwa dia ingin menjalani kehidupan yang lebih mapan bersama Nata. Angger selalu bilang kalau dia nyaman bersama Nata, tapi malam itu Angger mengatakan dengan kalimat yang lebih konkret, bahwa yang Angger inginkan adalah sebuah pernikahan; sekali seumur hidup.
“Umur segini apa lagi sih yang gue cari?” Angger meletakkan rokok di antara kedua mulut dan menyalakan korek zippo. Terdengar kemeresak halus rokok yang baru menyala kemudian ‘ctak’ yang agak keras ketika zippo kembali ditutup.
“Kalau lo mau ngajak gue settle cuma karena kesepian dan takut mati tua sendirian, mending nggak usah, deh. It’s disgusting.” Nata mencipratkan air ke wastafel kemudian mengelap tangan dengan tisu lalu membuang tisu ke tempat sampah.
Dini hari itu bar baru selesai ditutup dan Nata selesai membantu Angger mencuci piring-piring bekas kudapan. Angger bersandar pada meja konter bagian dalam dan Nata berdiri di muka pintu. Dapur dan tempat cuci piring ada di sebuah ruang kecil berukuran tiga kali empat di belakang bar, terpisah satu pintu yang hanya ditutup kerai plastik UV, dan di balik kerai itulah Nata sekarang berdiri.
“Kalau cuma takut mati sendiri pas tua gue udah gas sama siapa aja dari kapan tau, kan?”
“Ya siapa tahu dulu lo mau gas orang tapi nggak ada yang mau digas? Alias dulu lo nggak laku.”
Angger mengisap rokok sambil menahan tawa, tanpa menyahut. Dan seperti itulah Angger, dia tak pernah memaksa.
Nata turun dari meja konter, berjalan pelan ke arah pintu kaca bar yang sudah ditutup. Nata menatap pintu kaca yang memantulkan bayangan dirinya karena bagian depan sudah gelap ditutup rolling door. Nata mendekatkan bibir ke pintu kaca, mengembuskan napas di situ. Masih bisa berembun. Nata menulis I DO di atas embun napasnya. Tulisan itu perlahan lenyap karena udara. Nata tersenyum mengejek diri sendiri. Nata perlahan berbalik, menghela napas.
“Ibu, maaf Nata nggak bisa pulang.”
Lampu neon otomatis di depan bar mati. Matahari sebentar lagi terbit.
Comments
Post a Comment