Skip to main content

CERITA PENDEK II: BENJAMIN

Hiruk-pikuk manusia postmodern, irama kehidupan urban yang cepat, dan teknologi era entah-berapa-titik-nol, semuanya membawa relasi antar manusia menjadi tidak sederhana. Relasi manusia memang tidak pernah sederhana. Salah satu teman Tiana yang sok tahu, pernah bilang bahwa hubungan antar manusia seperti lapisan bawang merah; hubungan akan maju lapis demi lapis menuju ke keintiman. Pada situasi tertentu, dia benar. Pada situasi lainnya hubungan tidak bergerak lagi setelah lapisan pertama terbuka, atau hubungan dimulai dari lapis ketiga menuju lapis kedua kemudian ke lapis keempat. Pada situasi yang lebih rumit hubungan antar manusia adalah bawang cincang: termutilasi, acak, berantakan, tak pasti, dan tak mungkin diperbaiki—Tiana lebih sering melihat hubungan manusia pada situasi ini.

Aplikasi kencan online menjadi mangkuk sempurna untuk menampung semua bawang cincang itu, diberi bumbu rasa cemas dan ketergesa-gesaan manusia postmodern. Tidak ada waktu untuk menyelami masing-masing karakter di dalam aplikasi kencan. Tiana tidak tahu kapan harus berhenti. Tiana tidak tahu apa yang dia mau dari sini.


Satu hari setelah Nathan meninggalkan Tiana tanpa kabar, Tiana mendapatkan satu match baru dari platform kencan online lain. Namanya Benjamin, setidaknya itu yang terpasang di halaman profil. Ada berita baik dan buruk soal Ben. Berita baiknya dia tidak langsung mengajak Tiana untuk bertemu dan bersenggama. Berita buruknya, itu karena Ben penyintas gonore.

Di mata Tiana, Ben memiliki fitur wajah yang menarik—tentu saja ini salah satu alasan seseorang menggeser profil ke kanan di aplikasi kencan online, kan? Pada suatu pagi, beberapa hari setelah mereka bertukar kontak WhatsApp, Ben mengirimkan foto dia sedang berbaring di tempat tidur, menyipitkan mata, dengan kulit wajah dan sekitar dada kemerahan tanpa Tiana tahu mengapa. Bibirnya penuh dan sepertinya habis dipoles dengan lip balm. Tiana menyimpan foto itu hingga sekarang.

Ben orang baik, tapi dia tidak tertarik pada Tiana selain urusan perkara seks. Seperti kebanyakan laki-laki lain yang tersangkut di profil Tiana. Mungkin Tiana salah pasang foto, mungkin Tiana salah pasang keterangan tentang dirinya, mungkin juga para penjahat kelamin ini selalu tersangkut dengan Tiana karena sudah beredar rumor jelek soal Tiana di sebuah grup bawah tanah. Yang paling terakhir memang terdengar seperti delusi dan berlebihan, tapi kemungkinan tersebut tidak pernah nol. Yang Tiana heran, kenapa jempolnya juga terlalu bodoh dan dengan sembrono menggeser layar ke kanan pada profil-profil penjahat kelamin ini.

Tidak banyak yang terjadi selama Tiana berinteraksi dengan Ben. Dia hilang setelah satu minggu berinteraksi dengan Tiana. Tiana tidak tahu apakah Ben memblokir nomor Tiana atau malah Ben sengaja ganti nomor. Yang mana pun, Tiana tidak punya akses ke Ben lewat platform apa pun terutama setelah Tiana unmatch Ben beberapa hari sebelum Ben menghilang.


Dalam sebuah majalah National Geographic berbahasa Inggris yang terbit pada bulan Februari tahun 2006, Tiana menemukan penjelasan tentang bagaimana rasa tertarik dan cinta bekerja melalui reaksi biokimia di dalam kepala manusia. Kesimpulan dangkal yang bisa Tiana ambil dari sana adalah, sampai saat ini dia belum pernah memicu hormon oksitosin aktif di dalam kepala seorang laki-laki. Jika masalahnya sesimpel itu, Tiana mungkin bisa menyiasati dengan mencecoki oksitosin sintesis ke match selanjutnya. Tapi itu terdengar bodoh karena, oksitosin alami katanya dapat diperoleh dengan seks dan bermesraan bersama pasangan. Tiana boleh dibilang veteran di ranah itu, tapi tetap saja oksitosin yang dia picu tidak pernah cukup. Mengapa? Itu adalah sebuah pertanyaan bagus.

Neurosains bilang karena memang hormon-hormon itu tidak bertahan lama—cukup masuk akal karena seperti halnya orang kenyang yang akan lapar lagi beberapa jam kemudian, begitulah cara tubuh bekerja. Konon 4 tahun adalah waktu tersering hubungan kandas, mungkin karena pengaruh hormon-hormon di kepala yang mulai memudar.

Ben, di sela-sela waktu mengupas lapisan hubungan dengan Tiana yang singkat, pernah bilang Tiana bisa mendapatkan siapa pun yang Tiana mau karena karakter Tiana yang seperti itu (yang sampai saat ini Tiana tidak tahu apa maksudnya itu) dan wajah yang cukup enak dilihat. Tapi mungkin itu omong kosong dari seseorang yang kepalanya sedang terisi penuh noradrenaline, serotonin, oksitosin, dan sebendel hormon lain pasca orgasme setelah 'senggama virtual' melalui video.

Terbukti dari Ben sendiri yang tidak bisa didapatkan oleh Tiana. Hormon yang dilepaskan di dalam kepala Ben berkat bantuan Tiana mungkin tidak cukup banyak untuk membuat Ben memutuskan melekat pada Tiana.


Comments