Skip to main content

CERITA PENDEK I: NATHAN

 Di tengah-tengah situasi kacau karena perang Rusia-Ukraina, krisis pangan, penyakit mulut kuku mulai merebak di ratusan provinsi di Indonesia, huru-hara tidak penting perkara tidak mampu bayar karaoke di selatan Jawa, eks perdana menteri Jepang ditembak, pandemi babak akhir, bakteri purba mencair, sampai serangan penyakit ke hewan-hewan yang berpotensi menjadi ladang subur zoonosis; seonggok butiran debu kosmik sepele bernama Tiana sedang duduk tenang di atas gojek menuju sebuah tempat asing baginya untuk pertama kali.

Tiana punya beberapa kebiasaan buruk, diantaranya adalah mengonsumsi minuman manis, memakan makanan kaya akan kolesterol, dan menerima ajakan orang asing untuk bersenggama tanpa pengaman. Sekarang, Tiana sedang dalam perjalanan untuk melakukan kebiasaan yang disebutkan paling akhir. Tiana tidak tahu, dan tidak mau pikir panjang, mana yang akan membantu ajal menjemputnya lebih cepat; diabetes, stroke, HIV, atau komplikasi ketiganya.

Malam itu Tiana pergi ke sebuah kos campur, menemui seseorang yang bekerja sebagai kepala bartender di salah satu hotel di kawasan pusat bisnis Sudirman. Namanya Nathan, atau setidaknya itu yang tertulis di profil aplikasi kencan online. Sewaktu melihat Nathan secara langsung di kamar kos, Tiana merasa bertemu dengan imitasi Reza Rahadian dalam bentuk yang lebih mungil, dan sedikit mabuk—tinggi Nathan sekitar 168 cm dengan tubuh yang cenderung ramping.

Tiana tahu cerita ini tidak akan berakhir bahagia seperti cerita romansa yang biasa dijadikan bahan pelarian para pelamun menyedihkan. Kisah-kisah percintaan Tiana biasanya lebih suka menjambak kasar para pelamun dan melemparkan mereka sampai terbentur pada dinding kenyataan. Dan Tiana, seperti Sisifus, selalu memulai siklus yang sia-sia dengan kesadaran penuh walau tahu ke mana semua akan berakhir.

Itu jam tiga dini hari, lampu kamar sudah mati saat Tiana duduk bersandar ke kepala ranjang dan Nathan berbaring sambil memijit kening mengeluh pusing karena terlalu banyak menemani tamu minum sebelum dia pulang ke kos. "Kenapa lo mau-maunya sih dateng ke sini? Padahal gue cuma iseng ngajak lo doang."

"Hmm, yaudah berarti nggak apa-apa ya aku balik?"

"Eh, ya jangan." Memang orang yang setengah mabuk sulit dipahami.

Tiana membantu Nathan memijit kening walau tidak tahu apa ada pengaruhnya. "Kamu juga kenapa percaya tadi ninggalin aku sendiri di sini? Kalau ternyata aku rampok gimana?"

"Jujur gue sempet mikir lo mau nyelundupin narkoba."

"Aku ada cita-cita nyobain ganja, sih. Selalu penasaran sama efek halusinogen."

"Hah, lo bawa ganja?" Nathan beranjak duduk, berusaha menatap Tiana dalam gelap.

Tiana tertawa, sudah berhenti memijit kening Nathan. "Nggak, lah. Kan baru mau nyoba. Belum punya. Kalau pisau lipat, cutter, sama gunting bawa."

"Lo psikopat ya?"

Tiana tertawa lagi. Tuduhan itu terdengar lucu. "Masa aku psikopat? Mukaku aja kayak ayam."

Nathan menatap Tiana lurus beberapa detik, mungkin untuk mencari kemiripan antara wajah Tiana dengan ayam, lalu kembali ke posisi rebahan dan memijit kening.

Tiana selalu membawa cutter dan gunting untuk alasan-alasan praktis; memotong kertas, menggunting benang, atau membuka bungkus ciki. Satu tahun yang lalu salah seorang teman dekatnya memberi hadiah sebuah pisau swiss. Sejak itu tas Tiana tidak pernah absen terisi pisau lipat, cutter, dan gunting. Masih untuk alasan-alasan praktis.

Mungkin alasan lain Tiana tidak pernah ragu menerima ajakan orang asing untuk bertemu di mana pun dan kapan pun adalah perkakas-perkakas ini. Tiana tidak pernah membayangkan menusuk perut seseorang dalam keadaan terdesak menggunakan pisau lipat—pikir Tiana, lebih mudah untuk menggores-dalam dan menyasar nadi karotis atau vena jugularis di leher yang berjarak dua jari dari rahang. Tempat itu, seingat Tiana, tidak terlindung sesuatu yang keras selain otot leher. Tiana hampir seratus persen yakin rasa panik saat seseorang mengetahui lehernya memuncratkan atau mengalirkan darah (tergantung kena nadi atau vena) membuat mereka akan fokus pada diri sendiri dan membiarkan Tiana lepas.

Tapi itu semua hanya teori di kepala Tiana. Dia belum pernah mencoba menggoreskan pisau lipat ke daging selain ke daging buah.


Pukul dua siang. Tiana duduk di atas tempat tidur dengan kepala pengar dan perasaan campur aduk. Sudah lima jam berlalu sejak dia meninggalkan kos Nathan karena laki-laki itu harus kembali ke bar, menggantikan seorang bawahan yang cuti. Tiana tidak tahu apakah Nathan jujur atau mengarang cerita agar Tiana segera pergi. Yang mana pun, Tiana tahu bahwa setelah ini tidak akan ada kelanjutan apa-apa. Nathan hanya butuh seks. Seperti kebanyakan laki-laki lainnya. Dia seharusnya berhenti melakukan hal bodoh seperti ini.

Hari itu hari Sabtu, dan mulai beranjak sore. Tiana akhirnya mengirimkan ucapan terima kasih kepada Nathan sebagai bentuk sopan santun tapi tidak mendapat balasan. Tiana kecewa dan sedih tapi dia mulai terbiasa dengan perasaan itu.

Bukan salah aplikasi. Aplikasi hanyalah perpanjangan tangan dan alat bantu. Pisau dapur bisa dipakai untuk memotong sayur, tapi juga bisa dipakai untuk memburai usus seseorang. Perkaranya adalah siapa yang memegang pisau; apakah seorang koki atau seorang pembunuh. Atau seorang bocah yang tidak tahu apa-apa, berdiri dengan lutut gemetar, dan mengarahkan pisau ke sembarang arah untuk menutupi rasa takut.

Bocah yang tidak tahu apa-apa dan menyorongkan pisau ke sembarang arah itu adalah Tiana.

Dia sering berharap menemukan seorang koki yang akan mengajarinya cara memegang pisau yang benar dan memotong bahan makanan. Tapi mungkin akan sulit. Bisa jadi koki potensial itu memasak makanan yang tidak Tiana sukai. Tiana adalah bocah yang tidak tahu apa-apa dan menyorongkan pisau ke sembarang arah, dan bocah menjengkelkan tukang pilih-pilih koki. Tapi, bukankah semua orang adalah bocah menjengkelkan tukang pilih-pilih koki yang tidak tahu apa-apa dan menyorongkan pisau ke sembarang arah?

Mungkin sebetulnya tidak ada seorang koki handal pun di sini.


Comments